Niru oh Niru

cerita dikit tentang muara niru, yaitu sebuah desa atau duson yang ada di tepi sungai lematang, muara enim. Tepatnya di kecamatan Rambang Dangku. Dinamakan Muara Niru adalah karena desa ini berada di muara (atau sebutan orang melayu belahan utara ialah Kuala) dari sungai Niru, yang merupakan anak sungai Lematang.

Tak ada orang yang asli keturunan muara niru, karena desa ini bukanlah kampong lama yang sudah ada sejak zaman bahi (bari=baghi=bahari=lame nian=tua). Kampong ini dibentuk oleh orang-orang rantauan yang singgah menyeberangi sungai lematang. Karena ia terletak di muara sungai, sangatlah beralasan jikalau dari sekelompok perantau itu menetap dan mendirikan sebuah perkampungan. Kendati demikian masyarakat Muara Niru menganggap mereka merupakan bagian dari rumpun Dangku, yaitu satu suku yang mendiami sepanjang tepian lematang bahagian ilir.

Dangku adalah satu dari sekian banyak puak melayu di belahan selatan (batanghari sembilan). Selain perantau dari rumpun Dangku yaitu Kuripan (Kahuripan), Banu Ayu, Dangku, Pangkalan Babat dan sebagainya, masyarakat Muara Niru juga terdiri dari pendatang “negeri-negeri lain” baik Rumpun Melayu maupun non Melayu, dari rumpun melayu seperti daerah Rambang, Enim, Ujan mas yang masih termasuk puak melayu di Kab. Muara Enim, juga dari banyak daerah dalam lingkaran Batanghari Sembilan (Sumsel), ada pula yang non melayu yaitu bangsa jawa, yang di Muara Niru sekarang membentuk komunitas sendiri dalam “state” Talang Jawa, yaitu bagian kecil dari desa yang penduduknya semua keturunan orang jawa.

Kini Desa Muara Niru menempati posisi yang sangat strategis, yaitu sebagai pintu masuk dan keluar dari/ke kawasan Dangku yang ada di Seberang Lematang (Kuripan, Banu Ayu, Dangku). Masyarakat luar yang akan ke daerah tersebut mesti naik “Perahu Ketek” dari dermaga Muara Niru jika ingin menyeberang, begitu pun sebaliknya jika masyarakat dangku yang ingin keluar (umumnya berjualan) baik di kalangan desa (pasar kejut/harian) Muara Niru (kalangan hari Senin dan Kamis) maupun di pasar tradisional yang ada di daerah Rambang (Tebat Agung=Simpang Niru)

Komentar

Anonim mengatakan…

Sekitar th1964 saya sering mancing ikan persis dimuara sungai niru, dimuara itu banyak ikan Belida. Dulu didesa Muara niru itu ada pabrik es , dan unit pengolahan air bersih BPM/sekarang Pertamina. Dihilir terdapat desa Pangkalan dan Dangku , Kuripan didesa desa tsb tempat kami sering memancing ikan.

Postingan Populer